Header

Kamis, 21 Mei 2009

KOMUNITAS WARTEG “KALIMATUN SAWA”



KOMUNITAS WARTEG “KALIMATUN SAWA”
بسم الله الرحمن الرحيم
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Al-Qur’an ,Srt: Ali-Imron : 64)



“Kalimatun Sawa” Kalimat yang menyerukan kepada kesepakatan untuk menuju satu tujuan yaitu : “kesamaan derajat sesama manusia – dan meninggalkan pemujaan manusia secara berlebihan”

Terbesit dari ayat tersebut, dibarengi dengan situasi dan kondisi kebangsaan, kerakyatan dan keadilan di negeri tercinta Indonesia, dimana nafsu mementingkan kelompok, status dan jabatan (kekuasaan) melebihi bahkan menutupi suara hati nurani yang cenderung menuju kebenaran dan keadilan.

Potret warteg (warung tegal), yang sehari-hari melayani langganan (konsumen) dari berbagai lapisan dari yang berlebih riski sampai yang kekurangan, semua dilayani dengan keikhlasan. “TIDAK ADA PEMBEDAAN, WARTEG DALAM MELAYANI PELANGGAN” semua sama –Kalimatun Sawa-.

Dengan, keinginan segenap warga paguyuban warteg dan ingin memperluas tempat untuk menampung dan memecahkan persoalan-persoalan perwartegan, maka dengan kesepakatan Pengurus Paguyuban Warteg “Wong Pantura”, dibentuklah KOMUNITAS WARTEG “KALIMATUN SAWA” sebagai kelanjutan dari “PAGUYUBAN WARTEG “WONG PANTURA”, sehingga segenap pengurus Paguyuban Warteg PPWJ “WONG PANTURA” masih tetap keberadaannya untuk melanjutkan program-programnya.

Sabtu, 25 April 2009

إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء (Jalan Kalimatun Sawa)

Kalimatun Sawa bukan hanya sikap toleransi antar agama, tetapi lebih luas dalam artian: penghormatan kesamaan manusia di hadapan Tuhan. Di wajah Tuhan manusia ya manusia, bukan Tuhan, ini berarti : manusia tidak boleh memuja sesama manusia, begitu juga memandang sebelah mata sesamanya. Muhammad rasul Allah terakhir pernah ditegur Sang Penguasa Alam, dalam surat ‘Abasa (bermuka masam).




عَبَسَ وَتَوَلَّى
1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
أَن جَاءهُ الْأَعْمَى
2. karena telah datang seorang buta kepadanya.



Dari substansi Ayat ini, adalah teguran sifat manusia yang sering angkuh ketika diberi kekuasaan, Ya Muhammad kenapa anda bermuka masam, memang anda seorang kepala Negara dan Nabi, ini bukan berarti : anda harus bermuka masam kepada seoarang buta mata dan huruf. Bukankah kenabian dan kekuasan yang melekat pada dirimu adalah karena kuasaKu (Tuhan), Engkau dulunya lemah, buta dan tak berdaya kemudian Aku lekatkan kanabian dan kerasulan akan dapat dijadikan suri tauladan bagi yang lain.

Pada Intinya Kalimatun Sawa adalah persamaan harkat dan martabat sesama manusia agar tidak saling merendahkan harkat dan martabat sesamanya. Miskin dan Kaya di hadapan wajah Tuhan tidak ada bedanya. Karena yang Kaya bahkan Maha Kaya adalah mutlak milik Tuhan, bukan hak manusia. Manusia hanya berjalan lewat jalan kaya dan miskin untuk menuju Tuhannya.

Rabu, 22 April 2009

Menjaga Silaturrahim


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. ) QS. An-Nisaa’ : 1)