Langsung ke konten utama

Buah Pahit (Biji Mangrove) dan Manfaatnya

Biji Mangrove Tameng Sengatan Ultraviolet

02 Ags 2008 06:57

MANGROVE tidak hanya bermanfaat untuk 'penjaga' pantai ketika ombak tinggi menerjang laut. Mangrove atau tanaman bakau ternyata mempunyai khasiat sebagai tabir surya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Linawati Hardjito, peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), telah membuktikan manfaat biji mangrove untuk melindungi kulit manusia dari sengatan sinar matahari.

Linawati dalam penjelasannya mengatakan sebetulnya pemanfaatan biji mangrove untuk tabir surya sudah dilakukan bertahun-tahun masyarakat di Bugis. "Setiap kali para nelayan akan melaut, mereka melumuri bagian tubuh yang terpapar matahari dengan bedak cair yang terbuat dari biji mangrove," kata Linawati di Jakarta, Rabu (30/7).

Tidak hanya pada masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, saja yang memanfaatkan biji mangrove untuk melindungi kulit dari sengatan matahari. Pada masyarakat Ternate, biji mangrove dijadikan ekstrak untuk mencegah kanker rahim.

Biji mangrove yang terdapat di dalam buah mangrove mengandung antioksidan dan bahan aktif untuk melindungi kulit dari sengatan sinar ultraviolet. "Dari hasil penelitian kami hingga praklinis membuktikan bahwa biji mangrove (Xylocarpus granatum) mengandung flavonoid dan tanin. Manfaatnya sangat besar untuk mencegah terjadinya kanker kulit akibat sering terpapar sinar matahari," kata Linawati.

Penelitian yang dilakukannya sejak 2003 itu menjadi salah satu penelitian unggulan tingkat internasional hingga Kementerian Riset dan Teknologi pun membiayai penelitian itu.

Lebih lanjut Linawati menjelaskan biji mangrove itu diolah menjadi ekstrak dan diberi zat tambahan lainnya untuk dijadikan krim tabir surya. "Ekstrak biji mangrove mengandung sun protector filter (SPF) 22. Sementara itu, standar nasional Indonesia (SNI) untuk tabir surya SPF-nya minimal 15. Maka tabir surya dari mangrove itu lebih dari cukup untuk melindungi kulit dari sengatan matahari."

Uji coba telah dilakukannya pada para mahasiswanya untuk mencoba krim tabir surya buatannya. Krim tabir surya itu warnanya mirip dengan warna kulit dan tidak memakai bahan pengawet. Sedangkan baunya, mirip bau mangrove.

Linawati masih akan menyempurnakan soal bau, agar lebih harum sehingga lebih disukai konsumen. "Karena ini bahan alami dan warisan tradisional, terbukti tidak menimbulkan efek samping."

Ekstrak biji ternyata juga mengandung bahan polar dan nonpolar, sehingga dapat digunakan sehari-hari maupun saat berenang.

Menariknya, temuan Linawati itu telah diincar perusahaan asing dari Jerman. Saat itu pengusahanya meminta agar ia menjual dalam skala lisensi. Namun Lina menolak. "Temuan itu sudah saya patenkan. Saya baru mencari investor untuk bisa memasarkan produk ini. Selama ini produk masih terbatas dijual di kampus IPB saja."

Apabila produknya itu bisa diproduksi secara massal, Linawati pun bercita-cita mendirikan perusahaan kosmetika yang digali dari pengetahuan lokal masyarakat.

"Biasanya memang berhasil. Penelitian saya ini pun bisa berhasil 90%, karena semuanya berdasarkan pengalaman masyarakat yang sudah turun-temurun menggunakan biji mangrove untuk tabir surya. Jadi saya menginginkan temuan saya ini meski tradisional tapi modern, dan berdasarkan kajian ilmiah, lewat riset."

Lina juga akan berangkat ke Paris November tahun ini. Kedatangannya ke Paris, Prancis untuk menghadiri pameran berskala internasional. Dan temuan Lina ini pun dalam rangka untuk mendapat pengakuan internasional. (Cornelius Eko/H-2)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REJECTION OF COMMUNITY OF NUSANTARA’S WARTEG (small restaurant) TO THE NATIONAL CAPITAL WILL MOVE FROM JAKARTA

REJECTION OF COMMUNITY OF NUSANTARA’S
WARTEG (small restaurant)  TO THE NATIONAL CAPITAL WILL MOVE FROM JAKARTA In connection with President Joko Widodo's state address, Friday, August 16, 2019 at the Parliament Complex, Senayan, Jakarta with a plan to move the capital to a new place, we hereby, from the Warteg Community (Warung Tegal) Nusantara, abbreviated as KOWANTARA, express our opinions: Reject the plan to move the capital to a new place with the reason: Moving the capital requires a large budget, while the country's economic situation is not yet stable with conditions: 1. The purchasing power of Indonesian people is increasingly falling 2. Rising prices of basic commodities or groceries 3. In come small businesses are declining, especially small food stalls such as warteg (Tegal stalls) and others with the lack of buyers because the people's purchasing power is increasingly difficult 4. Difficult employment opportunities as a result of many companies closing and resulting …

The Great Mosques at Jakarta Indonesia On Google Maps (first series)

The Great Mosques at Jakarta Indonesia


The locations of major mosque points in Jakarta on google maps 1.  Al-Azhar Mosque Al-Azhar Great Mosque is a mosque located in the Al-Azhar school complex, Kebayoran Baru, South Jakarta. The mosque was inaugurated by the DKI Jakarta Regional Government as one of the 18 sites on the history of the development of the city of Jakarta.
Address : Jl. Sisingamangaraja, Selong, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110


Masjid Al Azhar

2. Istiqlal Mosque Istiqlal Mosque is the national mosque of the Republic of Indonesia which is located in the former Wilhelmina Park, in the Northeast Medan Merdeka Square which in the middle stands the National Monument, in the center of the capital Jakarta. Across the East this mosque stands the Jakarta Cathedral Church.
Address :
Jl. Taman Wijaya Kusuma, Ps. Baru, Kec. Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

Terungkap Ternyata Burung Perkutut Sangat Dimistikkan

Perkutut Katuranggan

Saat ini yang dimaksud dengan perkutut katuranggan adalah jenis-jenis perkutut yang secara fisik berbeda dengan perkutut biasa dan juga perbedaan sifat dan saat burung tersebut berbunyi. Dipercaya bahwa perkutut katuranggan memiliki sifat-sifat gaib yang bisa membawa kebaikan untuk pemeliharanya. Namun ada juga perkutut yang memiliki sifat yang justru tidak baik untuk dipelihara. Istilah perkutut katuranggan konon berasal dari kata Katurangga yang akar katanya berasal dari bahasa Jawa dari kata KATUR (menyampaikan) dan ANGGA (badan). Jadi KATURANGGA adalah pengetahuan yang dalam mengartikan entuk bentuk badan burung perkutut. Bagi penggemar burung perkutut jaman dahulu, katuranggan sangat memegang peranan utama (selain bunyi suaranya) dalam memilih burung perkutut bakalan untuk dijadikan burung kesayangannya.
Menurut kepercayaan orang dahulu  (sejak beratus ratus tahun yang silam) terutama pada tradisi masyarakat Jawa, Perkutut Katuranggan sering disebut burung al…