Header

Jumat, 29 April 2011

BUDAYA (MACOPAT) NUSANTARA mulai terkikis

02:14 April 30, 2011

PASURUAN, KOMPAS.com--Djojotruno (60) bisa disebut menjadi salah seorang yang menjadi benteng terakhir yang masih mempertahankan tradisi macapat di Puspo, Pasuruan, Jawa timur.
Di wilayah Puspo kini hanya tinggal dua orang yang masih setia melestarikan tradisi macapat, yakni Djojotruno, dan Suwandi, yang sama-sama memasuki usia lanjut.
Baik Djojotruno maupun Suwandi sama-sama mengaku pada ANTARA, Jumat, bahwa mereka tidak mempunyai lagi keturunan yang bersedia melestarikan macapat.
Kedua pewaris tradisi macapat itu bisa disebut sebagai benteng terakhir penjaga tradisi macapat di Puspo. Selain usianya yang telah mulai udzur, keduanya tidak mempunyai keturunan yang bersedia melanjutkan tradisi yang diwariskan dari nenek moyangnya.
Baik Djojotruno maupun Suwandi menjadi pelestari tradisi macapat secara turun temurun dari kekeknya. Keduanya yang masing-masing mempunyai anak tunggal dan tidak ada yang bersedia melanjutkan tradis macapat yang ditekuni orangtuanya.
"Anak lelaki saya yang merupakan anak satu-satunya yang telah berkeluarga, tidak bisa melanjutkan tradisi macapat karena tidak bisa dan tidak berminat," ungkap Djojotruno.
Kondisi serupa juga dialami Suwandi. Anak lelaki satu-satuinya Suwandi yang juga telah berkeluarga juga tidak bisa dan tidak berminat melestarikan tradisi macapat.
Praktis kini di Puspo hanya tinggal dua orang saja yang masih setai melestarikan tradisi macapat, yakni Djpojotruno, dan Suwandi. Keduanya bisa disebut sebagai benteng terakhir p[elestari tradisi macapat di Puspo.
Djojotruno menjelaskan, tradisi macapat sebenarnya masih diminati warga Puspo. Ia mengaku masih sering mendapat "job" macapat bersama Suwandi pada acara-acara syukuran khitanan, pernokahan, kelahiran bayi, ruweatan, atau pindahan rumah, dan bahkan siaran di radio.
"Hanya saja peminat yang bersedia untuk menjadi pembaca tidak ada lagi," kata Djojotruno.
Ia menjelaskan, pelestarian tradisi macapat secara tradisi berkembang secara turun temurun. Djojotruno mengaku mampu macapat lantaran keturunan dari orang tua, dan para leluhurnya.
Editor: jodhi

Sumber: kompas

Tidak ada komentar: