Header

Senin, 11 April 2011

Mengapa Tsunami di Jepang Berwarna Hitam Pekat?

Mengapa Tsunami di Jepang Berwarna Hitam Pekat?

Nurvita Indarini - detikNews

Mengapa Tsunami di Jepang Berwarna Hitam Pekat?

Wajah Jepang Pasca Gempa

Jakarta - Televisi tak henti-hentinya menayangkan terjangan tsunami yang menggulung Sendai di Prefektur Miyagi, Jepang. Dalam tayangan itu, tampak air tsunami yang menggelegak dahsyat berwarna hitam pekat. Bagaimana itu terjadi?

"Di beberapa tempat lepas pantai Sendai, ada yang airnya hitam. Kalau di dekatnya ada muara sungai, maka airnya hitam. Warna hitam itu merupakan endapan aluvial atau sedimen bawaan dari sungai yang kemudian masuk ke laut," ujar ahli gempa dari ITB, Dr Hamzah Latif, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (14/3/2011). Sendai adalah salah satu kota di Miyagi yang paling dekat dengan pusat gempa.

Dia menjelaskan, saat tsunami datang, dasar laut teraduk-aduk sehingga yang terangkat adalah sedimen di dasarnya. Jika penyusun sedimen di dasar laut adalah endapan aluvial yang berwarna hitam maka air yang dibawa tsunami untuk memukul daratan berwarna hitam. Namun jika dasar lautnya berupa karang maka air yang dibawa tsunami warnanya agak kecoklatan atau lebih terang.

"Ini tergantung dari sedimennya. Kalau suatu daerah, misalnya sungainya itu seperti air comberan, kemudian air itu mengalir ke laut, dan mengendap di dasar laut sekian tahun, maka saat tsunami datang endapan itu akan dibongkar dan bercampur dengan air laut," tutur alumnus Universitas Tohoku, Jepang, ini.

Kemungkinan lain yang menyebabkan air tsunami hitam adalah karena adanya lumpur vulkanik. Lumpur vulkanik ini seperti yang ada di Sidoarjo, Jawa Timur. Ketika gempa terjadi, terbentuk rekahan, sehingga bila ada lumpur vulkanik di bawah tanah maka akan keluar ke permukaan. Setelah keluar dari rekahan, lumpur tersebut kemudian bercampur dengan air.

Dia menambahkan, kendati belakangan Jepang tampak bersih, namun puluhan tahun lalu bisa saja ada pencemaran di sekitar pantai. Dari pencemaran itulah kemudian terjadi pengendapan di dasar laut. Yang terendap, lanjut dia, adalah sedimen berwarna hitam. karena itu tidak mengherankan jika air tsunami berwarna hitam.

Apakah kekuatan gempa turut mempengaruhi warna air tsunami? "Tidak. Yang mempengaruhi adalah endapan di laut. Kalau vulcanic mud bisa menyebabkan airnya hitam. Seperti kalau kita mengaduk ampas kopi. Tapi kalau lebih terang seperti kecoklatan, itu bisa terjadi karena ada karang," kata Hamzah.

Pada 11 Maret lalu, Jepang diguncang gempa berkekuatan 9. Gempa tersebut memicu tsunami yang menghantam Sendai dan sekitarnya. Lebih 1.600 orang tewas dalam bencana tersebut.

Dampak Tsunami Terhadap Sektor Pertanian
Aceh News
(adm/22 Peb 2005)

Terdapat 9 kabupaten/kota yang terkena tsunami di NAD. Daerah yang mengalami kerusakan lahan pertanian cukup berat terjadi di Kab. Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Pidie, Bireun, dan Aceh Jaya. Ribuan hektar tercemar lumpur yang terbawa gelombang tsunami.

Kondisi di lapangan pasca tsunami terlihat pada kondisi rumput yang mati total. Masyarakat khawatir sawah mereka tidak dapat ditanami untuk waktu yang lama karena kadar garam yang terlalu tinggi. Selain areal sawah, ratusan ribu sumur penduduk pun ikut tercemar. Kondisi ini menyebabkan pembangunan sektor pertanian terhenti dan memerlukan penanganan serius untuk perbaikan.

Gempa bumi, masuknya air laut (salinitas) dan tebalnya endapan lumpur (sedimen) membuat kerusakan lahan pertanian yang serius. Secara umum kerusakan di pantai barat lebih berat dibanding pantai timur. Di pantai barat, tinggi timbunan lumpur yang menutup lahan umumnya di atas 20 cm, dibanding di pantai timur yang umumnya ri bawah 20 cm. Lumpur tebal (>10 cm) umumnya dijumpai pada jarak 3 � 4 km dari pantai, makin dekat ke pantai ketebalan lumpur makin tipis. Hasil analisa laboratorium yang dilakukan oleh Tim Puslitbangtanak, Badan Litbang Pertanian, terhadap contoh lumpur dan tanah yang diambil di beberapa lokasi menunjukkan tingginya daya hantar listrik (DHL), >10 dS/m untuk lumpur dan 2 � 12 dS/m untuk tanah permukaan. Umumnya tanaman semusim seperti jagung, kacang tanah, dan padi mulai terganggu pertumbuhannya pada DHL 4 dS/m. Kandungan garam pada contoh lumpur dan tanah juga cukup tinggi yaitu 2.000-26.900 ppm untuk lumpur dan 140 � 6.000 ppm untuk tanah.

Tingkat kerusakan lahan yang terjadi a.l. lahan sawah (termasuk subsektor hortikultura) seluas 20.101 ha, ladang tegalan (tanaman palawija dan horti) 31.345 ha, dan perkebunan diperkirakan 56.500 � 102.461 ha (data FAO � Deptan) yang terdiri atas lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe. Adapun jumlah ternak yang mati ataupun hilang adalah 78.450 ekor sapi, 62.561 ekor kerbau, domba 16.133 ekor, kambing 73.100 ekor, dan unggas 1.624.431 ekor.

Infrastruktur usahatani, seperti jaringan irigasi, bangunan irigasi, jaringan saluran tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang, terasering (lahan kering) serta bangunan petakan lahan usahatani pun tak luput dari kerusakan. Disamping itu juga berbagai peralatan, seperti hand tractor, pompa air, traktor besar, alat pengolah nilam, karet, minyak kelapa, dan pengolah dendeng ikut rusak.

FAO memperkirakan kehilangan produksi bidang pertanian mencapai US$ 78,8 juta, dan prakiraan kerusakan infrastruktur pertanian sebesar US$ 33,4 juta. Upaya rehabilitasi di wilayah pantai barat diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Sedangkan pantai timur yang kerusakannya relatif lebih ringan dapat direhabilitasi dalam kurun waktu satu hingga dua tahun.

Sumber : Tim Nasional Penanggulangan Bencana Alam Aceh tertanggal 8 Pebruari 2005

http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/192/

Kerugian Tsunami Jepang Sekitar Rp. 1500 Triliun
Senin, 14 Maret 2011 | 15:46 WIB
Besar Kecil Normal
foto

AP/Kyodo News

TEMPO Interaktif, Tokyo - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pernah menghitung kerugian akibat gempa dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam mencapai US$ 4-4,5 miliar atau sekitar Rp. 36 triliun. Lalu, berapa kerugian tsunami Jepang?
Berita terkait

* Inilah Bantuan Berbagai Negara untuk Jepang
* Empat Awak Kuni Maru 3 Belum Ditemukan
* Pemkot Tegal Belum Tahu Nasib 251 Warganya
* Tsunami Jepang Tak Berdampak Pada Proyek MRT Jakarta
* Pakar: Jepang Berbeda dengan Chernobyl


Sebuah Bank Investasi terkemuka dunia Credit Suisss mencatat kerugian ekonomi regional akibat bencana di Jepang bisa mencapai US$ 171 - 183 miliar atau lebih dari Rp. 1500 triliun. Ini berati ratusan kali lipat dari musibah serupa di Indonesia pada 2004 lalu. Atau melibihi produk domestik bruto Indonesia selama satu tahun.

Pemimpin Credit Suisse Hiromichi Shikawa mengatakan bencana Jepang bisa mempengaruhi ekomoni regional di Asia Timur. "Sekitar 40 persen,"katanya hari ini.

Namun Shirakawa mengatakan kerugian infrastuktur di Jepang diperkirakan jauh lebih rendah lantaran tidak ada bangunan yang runtuh di pusat gempa.

http://www.tempointeraktif.com/hg/asia/2011/03/14/brk,20110314-319914,id.html


Gempa dan Tsunami Jepang, Kerugian Mencapai Rp2.693 Triliun
10:10, 24/03/2011

Gempa bumi dan tsunami yang melumpuhkan kawasan timur laut Jepang pada 11 Maret lalu tercatat sebagai bencana paling merugikan.

Musibah yang merenggut sedikitnya 9.408 nyawa itu dua kali lipat lebih merugikan dibanding Gempa Kobe pada 1995 lalu. Bahkan, lebih merugikan ketimbang Badai Katrina yang meluluhlantakkan New Orleans pada 2005 lalu.
Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Jepang, Naoto Kan merilis estimasi kerugian Jepang akibat gempa dan tsunami. Diperkirakan, nilai nominal kerugian Negeri Sakura itu diperkirakan mencapai 25 triliun yen atau sekitar Rp2.693 triliun. Jumlahnya pun akan bertambah, jika krisis nuklir yang merusakan sistem pendingin pada reaktor Fukushima Daiichi tak segera berakhir.

“Kerugian pemerintah Jepang akibat gempa dan tsunami akan menjadi yang paling besar di dunia. Tak ada bencana lain yang lebih merugikan daripada kejadian ini,” ujar Susumu Kato dari Credit Agricole.
Dia yakin, bencana alam yang memaksa sejumlah pabrik otomotif menghentikan produksinya itu bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jepang.

Dalam pernyataan resminya, Bank Dunia menuliskan bahwa Jepang akan membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk bangkit kembali.

Tapi, pemerintahan Kan berusaha keras segera mengembalikan kepercayaan investor ke negerinya. Beberapa waktu lalu, Bank Sentral Jepang menggelontorkan dana sebesar 40 triliun yen atau sekitar Rp4.313 triliun ke sektor finansial untuk mengembalikan gairah pasar. (afp/rtr/hep/jpnn)

http://www.hariansumutpos.com/2011/03/2587/gempa-dan-tsunami-jepang-kerugian-mencapai-rp2-693-triliun.htm

Tidak ada komentar: