Header

Minggu, 10 April 2011

Tsunami dalam Al--Qur'an

Republika
Selasa, 15 Februari 2005

Apa Kata Alquran Tentang Tsunami?

Nasaruddin Umar
Gurubesar Ilmu Tafsir UIN Jakarta dan Wakil Direktur Pusat Studi Alquran

Ketika dalam penerbangan menuju Milan, Italia, di samping saya duduk seorang
relawan yang baru saja pulang dari Aceh. Ia memperkenalkan diri sebagai
emergency field co-ordinator pada Medecins Frontieres Arsen Zonder Grenzen,
Belanda. Saya juga memperkenalkan diri sebagai gurubesar ilmu tafsir di UIN
Jakarta yang akan mengikuti seminar dan workshop di Bellagio, Italia. Diskusi
kami menarik karena ia juga aktif mempelajari kitab-kitab suci dan sangat kagum
terhadap tulisan-tulisan Karel Armstrong, mantan seprofesinya sebagai perawat,
yang kini menjadi penulis produktif tentang Islam. Di sela-sela perbincangan
kami ia mendesakkan sebuah pertanyaan, What does the Qur'an really say about
Tsunami in Aceh?. Ia merasa bingung terhadap pernyataan tokoh-tokoh agama di
berbagai media di Indonesia. Ada yang mengatakan tsunami sebagai hukuman
(punishment), yang lain mengatakan musibah biasa meskipun
dahsyat (calamity), dan ada juga yang mengatakan balabencana (disaster).
Sesungguhnya ia ingin menanyakan perbedaan antara azab, musibah, dan bala di
dalam Alquran. Pertanyaan ini cukup berat, untung saja inti pertanyaan ini baru
saja saya bahas di dalam khutbah Idul Adha di Mesjid Istiqlal yang baru lalu.

Ketiga istilah tersebut memang sering digunakan agak rancu di dalam masyarakat,
terutama pascatsunami. Jika pembicaraan diarahkan untuk menyabarkan masyarakat
yang tertimpa musibah maka peristiwa tsunami diasumsikan mushibah atau bala.
Jika diarahkan untuk mengingatkan kepada para pendosa dan orang-orang yang
melampaui batas maka peristiwa tsunami diasumsikan azab.

Manusia, alam, dan bencana
Di dalam Alquran, ketiga istilah tersebut dapat dibedakan. Azab lebih banyak
digunakan untuk menyatakan siksaan dan hukuman Tuhan terhadap para pendosa dan
orang-orang yang melampaui batas. Azab hanya ditujukan kepada para pendosa,
sedangkan orang yang baik-baik luput dari azab itu. Sedangkan musibah dan bala
lebih banyak digunakan untuk menyatakan ujian dan penderitaan kepada
orang-orang, baik kepada para pendosa maupun kepada orang yang baik-baik.
Perbedaan antara musibah dan bala hanya terletak pada skalanya. Musibah
skalanya lebih besar dan lebih luas, sedangkan bala skalanya lebih terbatas dan
umumnya bersifat personal. Sebab musabab musibah terkadang sulit dijelaskan
karena lebih banyak bersifat makro dan akumulatif, sedangkan bala lebih banyak
bersifat mikro dan kasuistik, misalnya kecerobohan seseorang berpotensi
mendatangkan bala.

Dalam beberapa kasus memang agak sulit dipetakan secara skematis. Perilaku
menyimpang dan dan perbuatan melampaui batas manusia sebagai makhluk
mikrokosmos seringkali berbanding lurus dengan perilaku ganas alam raya sebagai
makhluk makrokosmos. Alam raya memang telah ditundukkan (taskhir) untuk
mengabdi kepada kepentingan manusia sebagai khalifah di bumi (khalaif al-ardl),
akan tetapi alam raya sepertinya memberi syarat sepanjang manusia menjadi
khalifah yang baik dan benar. Kapan manusia tidak lagi bersahabat dengan alam,
bahkan merusaknya, maka alam pun tidak akan bersahabat, bahkan tidak
segan-segan ''menghukum'' sendiri manusia itu.

Hubungan dialektis antara makhluk mikrokosmos dan makhluk makrokosmos banyak
diuraikan di dalam Alquran. Antara lain misalnya hujan yang tadinya pembawa
rahmat (QS al-An'am/6:99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka banjir yang
memusnahkan areal kehidupan (QS al-Baqarah/2:59). Gunung-gunung yang tadinya
sebagai pasak bumi (QS al-Naba'/78:7), tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas,
dan gas beracun (QS al-Mursalat/77:10).

Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah/2:164) dan menyebabkan
penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi/18:45), tiba-tiba tampil
begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QS
Fushshilat/41:16). Laut yang tadinya begitu pasrah melayani mobilitas manusia
(QS al-Haj/22:65), tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya
(QS al-Takwin/81:6). Kilat dan guntur tadinya menjalankan fungsi positifnya,
melakukan proses nitrifikasi (nitrification process) untuk kehidupan makhluk
biologis di bumi (QS al-Ra'd/13:12), tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya,
menetaskan larva-larva betina (telur hama) yang kemudian memusnahkan berbagai
tanaman para petani (QS al-Ra'd/13:12). Disparitas flora dan fauna tadinya
tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS al-Ra'd/13:4), tiba-tiba
tumbuh dan berkembang menyalahi keseimbangan dan pertumb
uhan deret ukur kebutuhan manusia (QS al-A'raf/7:132).

Azab, mushibah, dan bala dalam Alquran memang ada. Azab yang merupakan siksaan
yang ditujukan kepada umat-umat terdahulu yang melampaui batas, seperti umat
Nabi Nuh yang keras kepala dan diwarnai berbagai kedlaliman (QS al-Najm/53:52),
dihancurkan dengan banjir besar dan mungkin gelombang tsunami pertama dalam
sejarah umat manusia (QS Hud/11:40); umat Nabi Syu'aib yang penuh dengan
korupsi dan kecurangan (QS al-A'raf/7:85; QS Hud/11:84-85) dihancurkan dengan
gempa yang menggelegar dan mematikan (QS Hud/11/94); umat Nabi Shaleh yang
kufur dan dilanda hedonisme dan cinta dunia yang berlebihan (QS
Al-Syu'ara'/26:146-149) dimusnahkan dengan keganasan virus yang mewabah dan
gempa (QS Hud/11:67-68).

Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual (QS
Hud/11:78-79) dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat (QS Hud/11:82); penguasa
Yaman, Raja Abraha, yang berusaha mengambil alih Ka'bah sebagai bagian dari
ambisinya untuk memonopoli segala sumber ekonomi, juga dihancurkan dengan cara
mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam surah Al-Fil (QS al-Fil/105:1-5).

Cara kerja azab Tuhan di dalam Alquran hanya menimpa kaum yang durhaka dan
tidak menimpa atau mencederai orang-orang yang shaleh dan taat pada Tuhan.
Sedangkan cara kerja mushibah dan bala tidak membedakan satu sama lainnya.
Contoh adzab misalnya Nabi Nuh dan orang-orang taat yang menyertainya selamat
dari terpaan banjir besar. Nabi Syu'aib dan pengikut setianya selamat dari
amukan gempa yang menggelegar. Nabi Shaleh dan segelintir pengikut setianya
selamat dari serangan wabah virus yang mematikan secara massal itu. Nabi Luth
dan pengikut setianya juga terbebas dari bencana alam yang mengerikan itu.
Demikian pula virus dahsyat yang dibawa oleh serangga Ababil hanya menghancur
luluhkan pasukan Abrahah. Dalam riwayat, Abu Thalib, kakek Nabi yang
menyaksikan bencana itu tidak ikut korban dalam bencana itu.

Bentuk azab yang pernah menimpa umat terdahulu antara lain: 1) banjir besar
(mungkin ini gelombang tsunami pertama) seperti yang ditimpakan pada umat Nabi
Nuh; 2) bencana alam dahsyat berupa suara yang menggemuruh seperti yang
ditimpakan kepada umat Nabi Syu'aib; 3) tanah longsor dahsyat seperti yang
ditimpakan kepada umat Nabi Luth; 4) Virus hewan yang menular kepada manusia
secara mengerikan, seperti yang menimpa umat Nabi Shaleh. Menurut Prof Opitz,
seorang ahli sejarah penyakit, kemungkinan virus ini virus anthrax karena
gejalanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, hari pertama warna kulit mereka
berwarna kuning, hari kedua berwarna merah, mungkin karena terjadi pendarahan
yang hebat sehingga pori-pori mengeluarkan darah, dan hari ketiga berwarna
hitam, mungkin karena empedu pecah dan seluruh cairan dalam tubuh berwarna
hitam. Ujung hari ketiga virus ini bekerja pada sistem saraf
termasuk sistem pendengaran, maka mereka mati bergelimpangan seperti
mendengarkan suara yang amat keras.

Azab lain berbentuk bakteri yang mematikan dibawa oleh serangga sebagaimana
ditujukan kepada umat pasukan Abrahah. Dalam Tafsir Al-Manar karya Muhammad
Abduh, kata thair dalam surah al-Fil diartikan dengan serangga yang membawa
virus dan kata al-hijarah min sijjil diartikan semacam zat yang mematikan. Cara
kerja virus ini menurut Prof Opitz agak mirip dengan virus Ebola yang
mengenaskan itu. Azab Tuhan sulit dipredeksi dan tidak akan pernah bisa
ditangkal oleh kekuatan manusia. Sedangkan musibah dan bala ada kemungkinan
untuk diprediksi dan diupayakan penangkalnya, antara lain dengan bentuk doa
sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

Tidak ada komentar: