Header

Kamis, 26 Januari 2012

Ternyata Tuhan Memisterikan Lokasi Masjid Al Aqsha


Tulisan dibawah ini diambil 
dari buku "Percikan Sains Dalam Al Quran : Menggali Inspirasi llmiah / H. Bambang Pranggono; editor, Dini Handayani -Bandung: Khazanah Intelektual, 2006" tanpa ditambah dan dikurangi

"MENYINGKAP MISTERI ISRA'" 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ 
Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram Ke Masjidil Aqsa yang Kami berkati sekitarnya. Supaya Kami tampakan padanya ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. (Q.S. Al Israa' 17: 1)

Kisah Isra' dan Mi'raj yang berlangsung 14 abad yang lalu, tetap menyisakan misteri sampai sekarang. Walaupun dari aspek teknologi, beberapa hal bukan lagi merupakan mukjizat. Misalnya soal Isra', yakni perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pulang pergi dalam semalam. Dahulu hal itu dianggap tidak masuk akal karena dengan unta pun, perjalanan memakan waktu sebulan sehingga didustakan oleh penduduk Mekah. Saking mustahilnya, para ulama tatsir sampai berselisih pendapat. Sebagian mengatakan bahwa yang berjalan itu hanya roh Rasulullah saw. Yang lain meyakini bahwa perjalanan itu dilaksankan lengkap jasmani dan rohani. Kini, kontroversi itu tidak perlu lagi, sebab dengan pesawat jet kita bisa beberapa kali puluh pergi karena jaraknya hanya 1235 km. Walhasil teknologi bisa mematahkan argumen penolakan orang kafir.

Namun, dari sisi lain, teknologi juga bisa mementahkan mukjizat. Artinya, perjalanan Isra' NuM Muhammad saw. secara teknologi tidak istimewa, sebab manusia biasa juga bisa. Keanehan kisah Isra' adalah tentang waktu kejadiannya. Kebanyakan ahli sejarah sepakat bahwa peristiwa itu terjadi pada 'amul hozan, tahun dukacita, yaitu tahun wafatnya istri dan paman Nabi saw., Siti Khadijah r.a. dan Abu Thalib. Jadi, Isra' berlangsung sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, artinya sebelum 621 M. Waktu itu Masjidil Haram masih berupa tanah lapang terbuka di sekeliling bangunan Ka'bah, belum ada bangunan masjidnya. Di Jerusalem juga pada tahun itu tidak ada bangunan masjid apa-apa. Masjidil Aqsa yang kita kunjungi saat ini dibangun oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik pada tahun 715 M, hampir seratus tahun setelah peristiwft Isra' Mi'raj.

Ketika Umar bin Khattab r.a. sampai lokasi itu di tahun 636 M, empat tahun setelah wafatnya Rasulullah saw., dulu hanya menemukan lapangan berisi puing-puing yang ditumbuhi rumput liar. Jadi, di mana Nabi Muhammad saw shalat bersama nabi-nabi lain waktu Isra'.' Di tanah lapangang Tidak mungkin, sebab dalam hadis diriwayatkan, waktu Nabi saw. menyampaikan kisah Isra' orang Mekah menguji dengan menanyakan berapa jumlah tiang Masjidil Aqsa dan Nabi Muhammad saw. menjawab dengan tepat. Jadi, harus ada bangunan dengan tiang.

Ada beberapa hipotesis, (1) Isra' berlangsung hanya roh saja, seperti impian yang benar, ruyah shodiqoh, yang sering juga dialami oleh Nabi dan orang-orang saleh. Tetapi ini berarti Isra' bukan mukjizat. (2) Isra' dengan jasmani, tetapi bukan ke Jerusalem. Mungkin ke masjid yang jauh dari Mekah. Masjidil Aqsa artinya masjid yang terjauh. (3) Isra' memang ke Jerusalem tetapi lokasinya yang tepat masih harus disurvei dan diteliti lagi secara intensif oleh arkeolog Muslim. Mungkin bukan di lokasi masjid yang sekarang disebut Al Aqsa, sebab pada tahun 600-an jelas hanya berupa lapangan kosong. (4) Isra' adalah fenomena perjalanan antar waktu. Rasulullah saw. dalam semalam bukan hanya menembus jarak Mekah-Jerusalem, tetapi juga menembus waktu mundur ke tahun 950 sebelum Masehi. Pada zaman itu, di Jerusalem memang ada bangunan ibadah megah yang dinamai haikal dan dibangun oleh Nabi Sulaiman a.s.

Di samping itu, masih ada tanda tanya berkaitan dengan Surat Al Israa' (17) ayat 1, ..menuju Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati di sekelilingnya.

Di sebelah mana yang diberkati? Di sekeliling Masjidil Aqsa orang Islam ditembaki oleh tentara Israel. Atau orang Israel yang terbunuh oleh bom syahid pejuang Palestina. Darah tertumpah setiap hari. Rumah-rumah orang Islam dibuldozer. Remaja intifadah melempar batu, dibalas rentetan peluru. Ternyata, hal ini sudah berlangsung selama ribuan tahun.

Lihatlah derita Jerusalem dari abad ke abad. Tahun 587 SM, Jerusalem dihancurkan oleh Nebukadnezar dari Babilonia. Tahun 538 SM, diduduki oleh Cyrus. Tahun .39 SM, diserbu oleh Alexander The Great. Tahun 198 SM direbut oleh Antiochus III raja Syria. Tahun 168 SM Antiochus Epiphanes meruntuhkan tembok kota. Tahun 63 SM, Pompeii, Kaisar Romawi menduduki kota. Tiga puluh tahun setelah Nabi Isa a.s. wafat, orang Yahudi memberontak kepada penjajah Romawi, dan ditumpas dengan bengis oleh Kaisar Titus, Jerusalem diratakan dengan tanah.

Tahun 132 M, Kaisar Hadrian mendirikan kuil-kuil dewa Yunani di atas reruntuhan gereja Kristen dan sinanog Yahudi. Tahun 330 M, Konstantin, seorang Kaizar Byzantium, membangun kembali kota Kristen di Jerusalem, hanya untuk dihancurkan lagi oleh Kerajaan Persia tahun 614 M. Tahun 636 M Jerusalem menyerah tanpa pertumpahan darah kepada Tentara Islam di bawah Umar bin Khattab r.a. Damailah Jerusalem selama 400 tahun.

Pada tahun 1009 M, Khalifah al-Hakim dari dinasti Fatimiyah Mesir menghancurkan gereja-gereja, sehinngga mengobarkan perang salib dan Jerusalem direbut oleh tentara salib dari Eropa. Mereka mengubah Masjidil Aqsa menjadi gereja. Tahun 1187 M Sultan Shalahuddin 'Al Ayubi merebut lagi Jerusalem. Tetapi tahun 1400 M, Timur Lenk dari Mongolia menghancurkan Jerusalem. Tahun 1517 M Kerajaan Utsmaniyah dari Turki menduduki kota itu sampai tahun 1917 M, ketika pasukan sekutu perang dunia kesatu menang dan menduduki Jerusalem. Tahun 1947 M negara Israel berdiri dan Jerusalem dibelah dua. Tahun 1967 M pecah perang enam hari Arab-Israel. Kota Jerusalem diduduki penuh oleh Israel.

Tahun 1973 M, meletus lagi perang 16 hari Arab-Israel. Pada tahun 1987 M, gerakan intifadah dimulai di Nablus dan Ramallah. Berjalan kaki mengelilingi Jerusa¬lem seakan-akan berjalan melintasi lautan darah manusia. Pedang telah menghilangkan ribuan nyawa penduduk kota ini. Pertempuran-pertempuran yang berlangsung di gerbang kota ini lebih banyak daripada kota-kota lain di seluruh dunia. Jerusalem sepanjang sejarah merupakan kota teror, perang, dan pertumpahan darah. Sayangnya, sebagian besar pertempuran itu tidak dalam rangka membela kebenaran agama. Banyak yang karena perebutan kekuasaan saja. Tidak seperti namanya, Al Quds, kesucian. Atau nama Ibraninya, Yerushalaym, kota perdamaian.

Kalau begitu, berkat Allah dalam bentuk apa yang ada di sekitar Masjidil Aqsa? Kemungkinannya ada dua, (1) Kita harus berani merevisi makna berkah. Definisi berkah tidaklah harus berbentuk kedamaian atau ketenangan, tetapi bisa saja pertumpahan darah bila perlu. (2) Kita harus berani merevisi lokasi Masjidil Aqsa. Kalau berkah masih harus diartikan secara konvensional, yakni kedamaian, Masjidil Aqsa yang diberkahi Allah mungkin bukan yang di Jerusalem. Kita wajib menyakini peristiwa Isra' yang difirmankan oleh Allah dan disabdakan oleh Rasul-Nya, tetapi soal lokasi Masjidil Aqsa yang benar masih bisa dibahas karena bukan tergolong masalah akidah. Para ahli arkeologi Muslim masih bisa berperan di sini. Memang, Surat. Al Israa' masih menyimpan misteri. Wallahu a'lam