Header

Senin, 26 Maret 2012

TIDUR 309 TAHUN


TIDUR 309 TAHUN


Dan mereka tinggal di dalam gua tiga ratus tahun di tambah Sembilan  (QS. Al-Kahfi 18: 25)

Ada perintah Rasulullah saw. yang sudah mulai jarang dilaksanakan karena tergusur acara sinetron dan kuis televisi, yakni membaca sebuah surat di dalam Al- Quran, Al Kahfi, di malam dan siang hari Jumat. Al Kahfi  artinya gua, karena dari ayat 9 sampai ayat 26 mengandung  kisah tentang para pemuda penghuni gua -ashabul kahfi yang berlindung di dalam gua untuk menghindari kejaran  penguasa kafir yang mau memaksa mereka murtad.
Mereka merasa hanya tidur sehari atau setengah  hari padahal ternyata telah berlangsung 309 tahun lamanya. Ki tab-kitab tafsir hanya membahasnya sebagai mukjizat Ilahi karena menceritakan hal-hal yang aneh. Namun, dari kacamata pengetahuan, kisah tidur 309 tahun ini tentu membuat penasaran. Ini adalah isyarat Allah tentang kemunginan manusia melompat ke masa depan. Ayat ini turun 1400 tahun sebelum film-film Hollywood tentang lorong waktu (time tunel) tentang mesin waktu (time machine), serta tentang perjalanan ke masa depan (back to the  future).
   Pada tahun 1958, Profesor Muhammad Taisir Dhabyan, ketua Rabithah Ulumul Islamiyah di Yordania, setelah Shalat Istikharah di Masjid Al Hussein, Amman, menemukan gua yang tertutup timbunan reruntuhan 3 km di luar kota Amman. Gua yang diyakini sebagai gua Ashabul Kahfi yang disebut dalam Al Quran itu dipotret 'an dilampirkan dalam surat proposal yang ditujukan kepada Direktorat Purbakala Kerajaan Yordania. Namun respons positif baru diperoleh 5 tahun kemudian, yakni di tahun 1963. Gua tersebut mulai digali, dibersihkan, dan dipugar sampai akhirnya pada tahun 1977 nama desa Ar-Rajib didekatnya diresmikan menjadi desa Ar-Raqim, sesuai dengan ayat Al Quran.
   Gua Ashabul Kahfi tersebut menghadap ke arah selatan, ke kota Amman. Di sana ditemukan 8 kuburan, 4 di sudut timur dan 4 di sudut barat. Sebuah ruangan yang agak lapang terdapat di sudut utara yang disebut fajwah dalam Al Quran. Sebuah lubang terowongan vertikal berdiameter 60 cm sepanjang 4 m, menghubungkannya dengan lantai masjid di atas gua. Ada tujuh buah tiang masjid bergaya Romawi dan dua tiang lagi di pintu gua berasal dari abad ke-3 Masehi. Ditemukan juga beberapa mata uang tembaga dan perak dari zaman Romawi, Byzantium, Umayyah, Abasiyyah, dan Usmaniyyah.
Ada sumur dan kendi kuno untuk berwudlu, tengkorak manusia dan anjing serta sebatang pohon zaitun purba di halaman gua. Di tahun 1960, Abu Ala al-Maududi, pimpinan Jamaat Islami Pakistan mengunjungi gua tersebut.
    Kini situs itu sudah menjadi obyek kunjungan peziarah dan di depannya dipasang papan nama CAVE OF THE SEVEN SLEEPERS. Lokasinya tidak lagi terpencil di luar kota, tetapi sudah berada kawasan industri yang sibuk.
   Penemuan itu membuktikan kebenara Al-Qur’an dan memancing perhatian kepada dua hal. Hal pertama tentang pengaruh gua bagi keawetan tubuh manusia tanpa balsem. Di Amerika Serikat, saat ini sudah ada lembaga yang menerima order khusus bagi orang yang mayatnya diawetkan. Mereka harus membayar mahal untuk ditempatkan dalam tabung dengan temperatur mi nus 2730C supaya organ-organ tubuhnya tetap awet selama seratus tahun. Dengan harapan, kelak saat  itu ditemukan teknologi menghidupkan orang mati.  Suatu investasi untung-untungan, tetapi bukan mustahil.
Hal kedua, tentang  lompatan waktu. Fenomena tidur 309 tahun serasa sehari adalah menggambarkan relativitas waktu, sebagaimana teori Albert Einstein. Teori relativitas mengatakan bahwaa waktu berjalan lebih lambat bagi benda yang sedang mengalami akselerasi/percepatan sehingga seorang astronot yang pergi ke ruang angkasa selama setahun menurut perhitungan jamnya. waktu mendarat kembali akan menjumpai saudara kembarnya sudah tua karena bagi orang bumi, waktu sudah berjalan dua puluh tahun sejak roket berangkat. Bagi pemuda Ashabul Kahfi rasanya hanya tidur sehari atau setengah hari, tetapi di luar gua, waktu berjalan normal.
  Ada teori lain yang dinamakan Folding Time and Space yang dikemukakan oleh Peter Lorie dan Sidd Murray Clark dalam bukunya History of the Future. Teori ini menyatakan bahwa waktu dan ruang itu bisa dilipat-lipat seperti akordeon. Atau seperti halaman dalam buku yang diberi nomor unit untuk dibaca berurutan secara normal, namun, bila sedang ditutup, halaman 1 dan halaman 40 berhimpit sedemikian rapatnya sehingga jaraknya hampir nol. Melompat dari halaman ke halaman yang jauh pun bisa dilakukan dalam sedetik. Mengembara dari masa lalu ke masa depan dan kembali lagi, bukan masalah. Ilmuwan lain, David Bohm, menjelaskan teori tersebut secara sederhana. Alam semesta menempati dan memenuhi ruang tiga dimensi, tetapi karena manusia hanya bisa menangkap, mengindrai bidang dua dimensi, seluruh titik yang ada di ruang tadi muncul dalam bidang tersebut. Titik yang jauh akan lebih samar-samar dan titik dekat akan lebih tegas.
Hal yang sama tentang waktu, seluruh waktu, masa lalu, saat ini, dan masa depan, sebenarnya ada pada saat ini. Saat yang telah lama silam agak kabur remang-remang. juga masa depan yang masih jauh. Tetapi kemarin dan besok pagi akan tampak terang dan tajam. Ini menjawab teka-teki peristiwa Isra' Mi'raj di mana Nabi Muhammad saw. shalat bersama-sama para nabi yang sudah lama wafat. Mudah dimengerti bila kita bayangkan tahun hidup dan daerah tempat tinggal para Nabi tersebut sebagai halaman kertas yang dilipat menjadi berimpit. Subhanallah. Bukankah itu yang Allah isyaratkan dalam Surat Al Kahfi?. Bahwa perjalanan antar zaman itu tidak mustahil. Coba kita simak firman Allah dalam surat Al Kahfi (18) ayat 9, Apakah engkau kira, kisah penghuni gua dan raqim, adalah ayat-ayat Kami yang ajaib?

   Pertanyaan Allah ini menggelitik. Karena tidur 309 tahun bagi kita saat ini memang sesuatu ajaib. Tetapi Allah seolah-olah  membuka rahasia hal itu sebetulnya tidak begitu ajaib. Kelak kalian juga bisa melakukannya.
    Kemudian ayat ke-22 yang bunyinya, Nanti akan berkata bahwa jumlahnya tiga orang, empat anjingnya. Yang lain berkata ada lima orang, enam anjingnya yang hilang. Dan ada lagi yang akan berkata  tujuh orang, delapan dengan anjingnya. Katakan, "Tuhanku tahu jumlah mereka." 'Tidak ada yang tahu jumlah mereka kecuali sedikit....
Berarti tidak mustahil manusia bisa mengengetahui  jumlah bilangan pemuda dan anjingnya. Kata "illa qolila  kecuali sedikit-mengisyaratkan   bahwa untuk  mengetahuinya harus melalui  riset penelitian dengan payah, mengerahkan dana dan daya. Begitu kira-kira Allah. Apabila bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan dengan sepenuhnya, manusia akan mencapai kemampuan-kemampuan yang tak terbayar saat ini. Berbagai hal yang dulu disebut mukjizat, karomah dan ajaib, kelak akan menjadi barang lumrah. Wallohu a'lam.

 (Dicopi dari Buku Percikan Sains Dalam Al-Qur'an : Bambang Pranggono, 2010)