Header

Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2019

Oppenheimer Theory : Usia Pohon Bakau dan Surat Saba Ayat 16

Oppenheimer Theory :  Usia Pohon Bakau

Satu suntikan darah baru lebih jauh ke selatan di Australia lebih jarang dibicarakan oleh para arkeolog daripada Lapita.  Penyusupan ini mempunyai ciri binatang-binatang yang ditambahkan (terutama anjing dingo) dan mungkin alat-alat kecil baru yang disebut mikrolit. Lintasan banjir ketiga di Australia memantulkan yang lebih jauh ke utara tapi orang-orang yang terlibat dan pengaruh pengaruh terhadap kebiasan mengumpulkan makanan mereka agak berbeda. 

Beberapa arkeolog telah menyebutnya usia pohon bakau. Di Bab 1, saya menunjukkan kurva-kurva tingkat permukaan laut dari Great Barrier Reef di sepanjang pantai timur Australia yang memantulkan gambaran yang terlihat di tempat lain padhanya melewati tanda hari ini tepat di bawah 6.000 tahun lalu. Maka kemudian mungkin air naik sampai satu meter melewati tingkat permukaan laut hari ini selama 4.000 tahun berikutnya.

Periode dari 8.000 sampai 6.000 tahun lalu telah dijuluki sebagai "rawa-rawa besar" atau "masa pohon bakau" da paparan-paparan benua dengan laut turun-naik seca ra dramatis antara 8.000 dan 7.500 tahun la lu. Setelah kenaikan tajam besar banjir itu, tingkat ermukaan laut berhenti sementara pada minus 5 meter kemudian paparan benua Sahul yang besar di Australia Utara dan telah meninggalkan susunan-susunan endapan yang khas. Di tempat tempat seperti Arnhem Land dan Sungai Alligator Selatan, pohon bakau menyebar lebih luas di garis pantai, menyusup lebih dalam ke hinterland daripada sekarang. Harry Allen, seorang arkeolog dari Australia, percaya bahwa perubahan-perubahan serupa muncul di seluruh Asia Tenggara tropis:

Susunan-susunan endapan serupa diketahui dari Dangkalan Bangladesh, Teluk Thailand, di sepanjang pantai-pantai Vietnam dan Cina Selatan, dan di Selat Malaka. Daerah-daerah Kalimantan sangat mungkin mendapatkan
pengaruh yang serupa. Sebagai tambahan, lokasi itu, penanggalan, dan isi kerang (bakau/lumpur pantai/spesies muara) dari gundukan kulit kerang Hoabinh di Sumatra, mengusulkan bahwa peninjauan lingkungandi Dataran Banjir Sumatra Timur akan memberikan sebuah susunan per ubahan yang telah didokumentasikan untuk Australia Utara dan pantai-pantai Thailand Tengah dan Cina Selatan. Sambil lalu, ada gunanya merenungkan bahwa masa pohon bakau di pantai-pantai rata Australasia ini juga merupakan "masa para buaya", sebuah poin
yang ditekankan dengan nama Sungai Aligator.

Sebagaimana yang saya tunjukkan belakangan di buku ini, kenaikan dramatis da lam habitat salah satu musuh alami manusia yang paling ditakuti, ketika orang-orang Asia Tenggara berjuang untuk mendirikan budaya Neolitikum mereka pada masa banjir, mungkin masih diingat dalam motif naga air di Indo-Cina.

Apa yang khususnya menarik dalam kajian-kajian Australia Utara adalah penemuan bahwa kebiasaan makan dan teknologi orang-orang pantai ini berubah setelah kenaikan tingkat permuka an laut. Sebagaimana pada garis-garis pantai terbanjiri 7.000-7.500 tahun lalu, di mana tingkat permukaan laut pertama memuncak kemudian jatuh kembali, orang-orang tidak bermukim di tanah di wilayah banjir selama sekitar 500 tahun. Lagi-lagi seperti di pantai-pantai Laut Cina Selatan, bukti terbaik budaya kelautan dari periode banjir di Australia tropis datang dari tumpukan sampah cangkang kerang di gua-gua dan situs-situs udara terbuka yang cukup jauh ke daratan untuk menghindari penenggelaman. 

Penjelasan pribumi lokal untuk "gua-gua cangkang" yang ditemu kan 25-30 kilometer ke pedalaman dari rawa-rawa bakau saat ini di Arnhem Land Barat sederhana saja: "Banjir Nuh".56 Tidak jelas seberapa banyak tradisi ini disebabkan oleh pengaruh misionaris dan seberapa banyak ini mencerminkan sebuah cerita yang sudah ada sebelumnya. Perubahan-perubahan dalam teknologi alat batu di situs ini muncul sekitar 5.000 tahun lalu, jauh setelah perubahan lingkungan utama.

Surat Saba Ayat 16 


فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ 

Arab-Latin: Fa a'raḍụ fa arsalnā 'alaihim sailal-'arimi wa baddalnāhum bijannataihim jannataini żawātai ukulin khamṭiw wa aṡliw wa syai`im min sidring qalīl 

Terjemah Arti: Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.

Referensi: https://tafsirweb.com/7774-surat-saba-ayat-16.html

Kamis, 29 Maret 2018

Ternyata Tanah Nusantara Se-luas 310.000.000 meter persegi (2 X P. Jawa) Hilang












فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ ﴿١٩﴾

019. Maka mereka berkata: "Ya Tuhan kami JAUHKANLAH JARAK PERJALANAN KAMI", dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka SEHANCUR-HANCURNYA. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. (SABA: 19)


عْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾

016. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (Saba : 34


Laut Jawa
Sumber : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Laut Jawa adalah perairan dangkal dengan luas kira-kira 310.000 km2 di antara Pulau Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Sulawesi di gugusan kepulauan Indonesia. Laut ini relatif muda, terbentuk pada Zaman Es terakhir (sekitar 12.000 tahun Sebelum Masehi) ketika dua sistem sungai bersatu. Di barat lautnya, Selat Karimata yang menghubungkannya dengan Laut China Selatan

Di Laut Jawa terdapat beberapa gugusan pulau dan kepulauan: Kepulauan Seribu di utara Kabupaten Tangerang dan secara administratif masuk dalam wilayah DKI Jakarta, Kepulauan Karimun Jawa yang masuk administrasi Jawa Tengah, Pulau Bawean dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, Kepulauan Masalembo, dan Pulau Kangean beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya yang berada di bawah administrasi Provinsi Jawa Timur.

Perikanan adalah kegiatan ekonomi penting di Laut Jawa. Ada 3.000 lebih spesies kehidupan laut di daerah ini. Laut Jawa, khususnya di bagian barat memiliki cadangan minyak bumi dan gas alam yang dapat dieksploitasi.

Daerah sekitar Laut Jawa merupakan daerah tujuan pariwisata populer. Selam scuba menawarkan kesempatan untuk menjelajahi dan memotret gua bawah laut, kapal tenggelam, terumbu karang, dan kehidupan bawah air. Beberapa taman nasional berada di daerah ini. Dekat Jakarta, di Kepulauan Seribu adalah Taman Nasional Ujung Kulon. Karimun Jawa adalah taman nasional yang terdiri dari dua puluh tujuh pulau. Pulau Menjagan, dekat Bali, adalah taman nasional "secluded".

Dalam sejarah Perang Dunia II, Laut Jawa merupakan lokasi naas bagi pasukan Sekutu. Pada bulan Februari dan Maret 1942, angkatan Laut Belanda, Britania, Australia, dan Amerika Serikat nyaris dihancurkan serangan Jepang.

Referensi
^ "Pleistocene Sea Level Maps". The Field Museum. 2003.
^ Oosten, F. C. van The Battle of the Java Sea Publisher: London : I. Allen, 1976. ISBN 0-7110-0615-6

^ Thomas, David A. Battle of the Java Sea. London: Pan Books, 1971. ISBN 0-330-02608-9

https://id.wikipedia.org/wiki/Laut_Jawa